Kebakaran Sade Jadi Momentum Pemulihan Warisan Budaya Sasak, Bukan Sekedar Membangun Kembali Fisik
LOMBOK TENGAH— Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya meninggalkan kerugian material, tetapi juga menjadi pukulan besar terhadap keberlangsungan warisan budaya Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan laporan awal dampak kebakaran terhadap kelestarian kebudayaan Nusa Tenggara Barat, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB telah melakukan peninjauan lapangan dan koordinasi dengan pemerintah desa, tokoh adat serta masyarakat Sade untuk mengidentifikasi dampak yang terjadi, khususnya terhadap bangunan tradisional, benda budaya, perangkat ritual, kesenian, tenun, pusaka dan pengetahuan budaya masyarakat.
Dari pendataan awal sektor kebudayaan, sejumlah komponen kawasan adat terdampak meliputi 75 unit rumah tradisional/adat, satu unit masjid, empat unit berugak sekenam besar, enam unit berugak sekepat, delapan unit lumbung alang, 69 unit artshop, satu Bale Beleq, toilet umum wisatawan, gerbang Desa Adat Sade, serta pelonggo. Data tersebut masih akan diverifikasi lebih lanjut sesuai kondisi masing-masing objek.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB menegaskan bahwa dampak kebakaran Sade tidak dapat dilihat hanya sebagai kehilangan bangunan fisik. Rumah tradisional, lumbung dan berugak merupakan ruang hidup masyarakat yang memiliki fungsi sosial, budaya dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Sasak.
Selain bangunan adat, kebakaran juga berdampak pada berbagai benda budaya. Perangkat kesenian tradisional seperti gendang beleq, kenceng, trompong, gong serta perlengkapan begawi dilaporkan banyak yang musnah. Begitu pula dengan sejumlah pusaka masyarakat seperti keris, tombak, kelewang dan benda bersejarah lainnya yang selama ini disimpan di rumah-rumah warga.
Kehilangan juga terjadi pada naskah lontar yang menjadi bagian dari pengetahuan leluhur masyarakat Sade, termasuk naskah Jatiswara dan Puspakarma. Selain itu, peralatan tenun serta hasil tenun lama yang memiliki nilai budaya dan ekonomi turut terdampak akibat kebakaran.
Dinas Kebudayaan NTB menilai terdapat empat dimensi dampak utama akibat musibah tersebut, yaitu hilangnya warisan budaya benda, terganggunya warisan budaya takbenda, terancamnya pengetahuan tradisional, serta hilangnya sebagian memori kolektif masyarakat yang melekat pada benda dan ruang budaya.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian juga diarahkan pada pemulihan sosial masyarakat. Sebagian warga, khususnya anak-anak dan lansia, masih mengalami trauma akibat peristiwa kebakaran. Masyarakat membutuhkan dukungan berupa dapur darurat, pemeriksaan kesehatan, pendampingan psikologis serta ruang aman bagi kelompok rentan.
Sebagai langkah awal pemulihan, Dinas Kebudayaan NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan NTB telah melakukan identifikasi aset budaya, penggalian informasi dari tokoh adat dan masyarakat, pendataan bangunan serta fasilitas kawasan, hingga menyiapkan langkah inventarisasi dan dokumentasi lanjutan.
Pemulihan Sade ke depan diarahkan tidak hanya pada pembangunan kembali bangunan yang terbakar, tetapi mengembalikan ekosistem kebudayaan secara utuh. Konsep Sade sebagai Living Heritage menjadi salah satu arah pemulihan, yakni menjaga agar Sade tetap menjadi kampung adat yang dihuni dan dijalankan masyarakatnya dengan adat, tradisi, pengetahuan dan ritual yang tetap hidup.
Selain itu, diperlukan penguatan mitigasi bencana melalui sistem deteksi dini kebakaran, penyediaan sumber air, alat pemadam, jalur evakuasi, titik kumpul, standar operasional kebakaran serta pelatihan masyarakat, sehingga keselamatan kawasan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Dinas Kebudayaan NTB juga mengusulkan pembentukan Tim Terpadu Pemulihan Kebudayaan Desa Adat Sade yang melibatkan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Pemerintah Desa Rembitan, masyarakat adat Sade, Balai Pelestarian Kebudayaan NTB, akademisi, ahli budaya, ahli arsitektur tradisional dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui tim tersebut, proses pemulihan akan dilakukan secara bertahap mulai dari penyelamatan, pendataan, dokumentasi, digitalisasi, pemulihan, rekonstruksi, pelestarian hingga pemanfaatan kawasan budaya.
Peristiwa kebakaran Desa Adat Sade menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama menjaga warisan budaya Sasak. Pemulihan yang dilakukan bukan hanya untuk membangun kembali rumah dan fasilitas yang terbakar, tetapi memastikan identitas, pengetahuan, tradisi dan nilai budaya masyarakat Sade tetap hidup untuk generasi mendatang.







