DARI TANAH KERING SELATAN, KOPI TUMBUH SUBUR: KISAH AMAQ RASIP MENANTANG BATAS ALAM DI SEGALA ANYAR
Di tengah karakter wilayah selatan yang identik dengan lahan kering dan curah hujan terbatas, Desa Segala Anyar justru menghadirkan cerita berbeda. Dari tanah yang kerap dianggap kurang bersahabat, tumbuh harapan baru melalui budidaya kopi yang kini mulai menunjukkan hasil nyata.
.jpeg)
Di Dusun Kadik II, tepatnya di Kebon Kupi Langan Dadih, sekitar 300 pohon kopi jenis arabika dan robusta tumbuh subur di atas lahan seluas 12 are. Kebun ini telah dirintis sejak empat tahun lalu oleh seorang petani bernama Amaq Rasip (60), yang kini menikmati panen terbaik sejak pertama kali menanam.
.jpeg)
“Ini panen paling banyak sejak awal tanam,” ujarnya singkat, menggambarkan hasil dari proses panjang yang penuh ketekunan.

Perjalanan Amaq Rasip tidaklah instan. Sebelum memilih kopi, ia sempat mencoba berbagai komoditas seperti pisang dan pepaya, namun belum memberikan hasil optimal. Keputusan beralih ke kopi menjadi titik balik. Dengan keberanian mencoba hal baru di usia kepala enam, ia mempelajari teknik budidaya kopi, termasuk melakukan rekayasa lingkungan agar tanaman mampu beradaptasi di lahan kering.
Hasilnya kini mulai terlihat. Pohon-pohon kopi yang ditanamnya tumbuh sehat dan berbuah lebat, membuktikan bahwa keterbatasan air bukanlah penghalang mutlak jika dikelola dengan tepat.
Tak hanya berhenti pada keberhasilan pribadi, Amaq Rasip juga membuka peluang bagi petani lain dengan menyediakan bibit kopi arabika. Langkah ini diharapkan dapat menularkan semangat dan membuka alternatif usaha bagi warga desa.
Kepala Desa Segala Anyar, Ahmad Zaini, menilai keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa potensi pertanian di wilayahnya sangat besar meski didominasi lahan tadah hujan.
“Petani kita mampu mengoptimalkan lahan kering dengan berbagai komoditas. Apa yang dilakukan Amaq Rasip membuktikan bahwa kopi robusta dan arabika bisa tumbuh dan menghasilkan, meski dengan keterbatasan air,” ujarnya.
Selain kopi, warga juga mengembangkan tanaman lain seperti melon, semangka, cabai, tomat, dan bawang. Pemerintah desa pun mendorong pertanian terpadu melalui pengembangan pupuk organik berbahan kotoran ternak yang melimpah di wilayah tersebut.
Upaya ini diperkuat dengan rencana kerja sama bersama Wakai Farm dari Jepang dalam pengembangan sayuran organik. Bahkan, pembangunan greenhouse juga direncanakan untuk mendukung pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.
Kisah dari Segala Anyar ini menjadi penegas: keterbatasan alam bukan akhir dari segalanya. Dengan inovasi, ketekunan, dan keberanian mencoba, lahan kering pun bisa berubah menjadi ladang harapan.







